SUMMIT HUNTSMAN PAPUA

............................................................................................................

Fans Page

Tanggal Postingan

About US

Postingan

I'm using MyIPHide, a lightning fast proxy to unblock sites and hide IP. Get your 4-day free trial here.

I'm using MyIPHide, a lightning fast proxy to unblock sites and hide IP. Get your 4-day free trial here. : I'm using MyIPHide, a lig...

Following

Budaya Tetap Kokoh Didalam Diri Manusia

    Oktober 15, 2016   No comments




Sebuah kata bijak mengatakan, "tanpa manusia, budaya tidak ada, namun lebih penting dari itu, tanpa budaya, manusia tidak akan ada" (Clitford Geetz). Sebuah kata bijak yang sederhana, namun sangat dalam makna dan filosofinya. Apabila menurut sejarah manusia, mengenai otak dan kecerdasannya yang menghasilkan sebuah budaya berdasar cipta, rasa dan karsa maka disitulah letak peradaban manusia diukur. Dengan terciptanya sebuah budaya, maka manusia tidak akan lepas dari budayanya masing-masing dan selalu tergantung. Papua jika ditengok kebelakang dengan alur "flash back", adalah satu keturuan. Kurang tepat jika kita disebut sebagai keturunan Homo Erectus yang tinggal di Melanesya ratusan ribu tahun yang lalu, karena mereka telah punah. Kesamaan ras mulai dari Jayawijaya, Nabire dan Biak yang di kategorikan sebagai Austronesia adalah bukti kita sebenarnya adalah pendatang baru. Mereka ada 5.000 hingga 13.000 tahun yang lalu. Masih ada teori lagi bahwa nenek moyang kita berasal dari Anggruk, sekitar 4.000 tahun yang lalu yang dikenal sebagai ras Negroid. Pola penyebaran nenek moyang kita dan perubahan fisik lingkungan menyebabkan timbul kebudayaan masing-masing sesui dengan kondisi tempat tinggalnya. Sebelumnya wilayah Melanesya adalah satu daratan, hingga suatu saat terpisah oleh perairan dan terbentuklah pulau-pulau.


Sangat kompleks sekali dan rumit jika menulusuri sejarah masa silam, namun setidaknya kita yang menghuni bumi Melanesya adalah satu nenek moyang. Pertanyaan sekarang adalah, perbedaan budaya, karena adaptasi lingkungang geografis acapkali menimbulkan konflik horisontal. Semakin benyaknya populasi manusia, dan perkawinan silang menciptakan variasi-variasi yang diekspresikan dalam tubuh manusia. Perbedaan warna kulit, bentuk wajah, rambut, mata, tinggi badan yang secara fisik adalah salah satu bentuk variasai gen, sedangkan kebudayaan sebagai bentuk adapatasi terhadap lingkungan. Perbedaan-perbedaan yang sejak awal inilah yang acapkali menjadi ganjalan konflik yang berbau SARA. Papua dengan ribuan Suku, Budaya serta pulau ditambah lagi ratusan bahasa. Rasa memiliki yang cenderung fanatisme menciptakan kondisi primodialisme dan menjadi sensitif disaat ada gesekan dan pergolakan. Sangat mengerikan jika budaya tersebut yang sudah mendarah daging itu terciderai oleh sebuah konflik, tak jarang darah tertumpah dan nyawa melayang. Efek domino juga akan timbul dan menggesek dan mengerakan budaya tempat lain, yang acapkali konflik akan semakin membesar.
 
SHP, Summit Hunstman Papua dengan ikon Festival Budaya Lembah Baliem menjadi wadah untuk mempersatukan perbedaan dan warna-warni budaya Melanesya. FBLB, Festival Budaya Lembah Baliem adalah ajang tahunan yang diselenggarakan untuk menampilkan budaya dan seni masing-masing etnis di Pegunungan Jayawijaya. Dari Tiom sampe ke Kurima, serta dari beberapa kabupaten pemekaran dari kabupaten induknya pun berdatangan untuk saling unjuk gigi menampilkan seni dan budayanya masing-masing secara total. Mereka bukanlah duta-duta seni yang dibuat pemerintah sebagai boneka untuk menampilkan sisi primodial dan kedaerahan, tetapi mereka adalah masyarakat serta mahasiswa yang punya kesadaran bahwa mereka punya budaya. Sungguh luar biasa, apa yang mereka lakukan untuk menampilkan seni dan budaya, berupa rumah adat, pakaian adat, makanan khas, tarian adat, perang-perangan hingga semua apa yang mereka miliki mereka tumpahkan dalam FBLB 2016.







Sebuah kata bijak mengatakan, "tanpa manusia, budaya tidak ada, namun lebih penting dari itu, tanpa budaya, manusia tidak akan ada" (Clitford Geetz). Sebuah kata bijak yang sederhana, namun sangat dalam makna dan filosofinya. Apabila menurut sejarah manusia, mengenai otak dan kecerdasannya yang menghasilkan sebuah budaya berdasar cipta, rasa dan karsa maka distulah letak peradaban manusia diukur. Dengan terciptanya sebuah budaya, maka manusia tidak akan lepas dari budayanya masing-masing dan selalu tergantung. Indonesia jika ditengok kebelakang dengan alur "flash back", adalah satu keturuan. Kurang tepat jika kita disebut sebagai keturunan Homo Erectus yang tinggal di Nusantara ratusan ribu tahun yang lalu, karena mereka telah punah. Kesamaan ras mulai dari Sumatra, Jawa dan Kalimantan yang di kategorikan sebagai Austronesia adalah bukti kita sebenarnya adalah pendatang baru. Mereka ada 5.000 hingga 13.000 tahun yang lalu. Masih ada teori lagi bahwa nenek moyang kita berasal dari Taiwan, ada juga yang menyebut dari Cina bagian selatan sekitar 4.000 tahun yang lalu yang dikenal sebagai ras Mongoloid. Pola penyebaran nenek moyang kita dan perubahan fisik lingkungan menyebabkan timbul kebudayaan masing-masing sesui dengan kondisi tempat tinggalnya. Sebelumnya wilayah Nusantara adalah satu daratan, hingga suatu saat terpisah oleh perairan dan terbentuklah pulau-pulau.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/dhave/pelangi-nusantara-dalam-pentas-seni-dan-budaya-satu-untuk-indonesia_55101f01813311a839bc60dd

Previous
Next Post
Tidak ada komentar:
Write komentar

Us

Menulislah Selagi Masih Bisa Menulis, Sebelum Semuanya Pudar (maaf Portal ini masih dalam tahap pembuatan)

Ikuti Saya

Anda Dapat Mengapload Foto Secara Gratis Ke Halaman Tautant Kami Melalui Link Instagram Kami
© 2014 Summit Huntsman Papua. Designed by Steven
Proudly Powered by stevenwalter.