Sebuah
kata bijak mengatakan, "tanpa manusia, budaya tidak ada, namun lebih
penting dari itu, tanpa budaya, manusia tidak akan ada" (Clitford Geetz).
Sebuah kata bijak yang sederhana, namun sangat dalam makna dan filosofinya.
Apabila menurut sejarah manusia, mengenai otak dan kecerdasannya yang
menghasilkan sebuah budaya berdasar cipta, rasa dan karsa maka disitulah letak
peradaban manusia diukur. Dengan terciptanya sebuah budaya, maka manusia tidak
akan lepas dari budayanya masing-masing dan selalu tergantung. Papua jika
ditengok kebelakang dengan alur "flash back", adalah satu keturuan.
Kurang tepat jika kita disebut sebagai keturunan Homo Erectus yang tinggal di Melanesya
ratusan ribu tahun yang lalu, karena mereka telah punah. Kesamaan ras mulai
dari Jayawijaya, Nabire dan Biak yang di kategorikan sebagai Austronesia adalah
bukti kita sebenarnya adalah pendatang baru. Mereka ada 5.000 hingga 13.000
tahun yang lalu. Masih ada teori lagi bahwa nenek moyang kita berasal dari Anggruk,
sekitar 4.000 tahun yang lalu yang dikenal sebagai ras Negroid. Pola penyebaran
nenek moyang kita dan perubahan fisik lingkungan menyebabkan timbul kebudayaan
masing-masing sesui dengan kondisi tempat tinggalnya. Sebelumnya wilayah Melanesya
adalah satu daratan, hingga suatu saat terpisah oleh perairan dan terbentuklah
pulau-pulau.
Sangat
kompleks sekali dan rumit jika menulusuri sejarah masa silam, namun setidaknya
kita yang menghuni bumi Melanesya adalah satu nenek moyang. Pertanyaan sekarang
adalah, perbedaan budaya, karena adaptasi lingkungang geografis acapkali
menimbulkan konflik horisontal. Semakin benyaknya populasi manusia, dan
perkawinan silang menciptakan variasi-variasi yang diekspresikan dalam tubuh
manusia. Perbedaan warna kulit, bentuk wajah, rambut, mata, tinggi badan yang
secara fisik adalah salah satu bentuk variasai gen, sedangkan kebudayaan
sebagai bentuk adapatasi terhadap lingkungan. Perbedaan-perbedaan yang sejak
awal inilah yang acapkali menjadi ganjalan konflik yang berbau SARA. Papua
dengan ribuan Suku, Budaya serta pulau ditambah lagi ratusan bahasa. Rasa
memiliki yang cenderung fanatisme menciptakan kondisi primodialisme dan menjadi
sensitif disaat ada gesekan dan pergolakan. Sangat mengerikan jika budaya
tersebut yang sudah mendarah daging itu terciderai oleh sebuah konflik, tak
jarang darah tertumpah dan nyawa melayang. Efek domino juga akan timbul dan
menggesek dan mengerakan budaya tempat lain, yang acapkali konflik akan semakin
membesar.
SHP, Summit Hunstman Papua dengan ikon Festival Budaya Lembah Baliem menjadi wadah untuk mempersatukan perbedaan dan warna-warni budaya Melanesya.
FBLB, Festival Budaya Lembah Baliem adalah ajang tahunan yang diselenggarakan
untuk menampilkan budaya dan seni masing-masing etnis di Pegunungan Jayawijaya.
Dari Tiom sampe ke Kurima, serta dari beberapa kabupaten pemekaran dari kabupaten induknya pun berdatangan untuk saling unjuk gigi menampilkan seni dan budayanya
masing-masing secara total. Mereka bukanlah duta-duta seni yang dibuat
pemerintah sebagai boneka untuk menampilkan sisi primodial dan kedaerahan,
tetapi mereka adalah masyarakat serta mahasiswa yang punya kesadaran bahwa
mereka punya budaya. Sungguh luar biasa, apa yang mereka lakukan untuk
menampilkan seni dan budaya, berupa rumah adat, pakaian adat, makanan khas,
tarian adat, perang-perangan hingga semua apa yang mereka miliki mereka tumpahkan dalam FBLB
2016.
Sebuah kata bijak
mengatakan, "tanpa manusia, budaya tidak ada, namun lebih penting dari
itu, tanpa budaya, manusia tidak akan ada" (Clitford Geetz). Sebuah kata
bijak yang sederhana, namun sangat dalam makna dan filosofinya. Apabila
menurut sejarah manusia, mengenai otak dan kecerdasannya yang
menghasilkan sebuah budaya berdasar cipta, rasa dan karsa maka distulah
letak peradaban manusia diukur. Dengan terciptanya sebuah budaya, maka
manusia tidak akan lepas dari budayanya masing-masing dan selalu
tergantung. Indonesia jika ditengok kebelakang dengan alur "flash back",
adalah satu keturuan. Kurang tepat jika kita disebut sebagai keturunan
Homo Erectus yang tinggal di Nusantara ratusan ribu tahun yang lalu,
karena mereka telah punah. Kesamaan ras mulai dari Sumatra, Jawa dan
Kalimantan yang di kategorikan sebagai Austronesia adalah bukti kita
sebenarnya adalah pendatang baru. Mereka ada 5.000 hingga 13.000 tahun
yang lalu. Masih ada teori lagi bahwa nenek moyang kita berasal dari
Taiwan, ada juga yang menyebut dari Cina bagian selatan sekitar 4.000
tahun yang lalu yang dikenal sebagai ras Mongoloid. Pola penyebaran
nenek moyang kita dan perubahan fisik lingkungan menyebabkan timbul
kebudayaan masing-masing sesui dengan kondisi tempat tinggalnya.
Sebelumnya wilayah Nusantara adalah satu daratan, hingga suatu saat
terpisah oleh perairan dan terbentuklah pulau-pulau.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/dhave/pelangi-nusantara-dalam-pentas-seni-dan-budaya-satu-untuk-indonesia_55101f01813311a839bc60dd
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/dhave/pelangi-nusantara-dalam-pentas-seni-dan-budaya-satu-untuk-indonesia_55101f01813311a839bc60dd



Tidak ada komentar:
Write komentar