Minggu, 30 September
2018 19:51 WIB
Navida Rahma
Ramadhan, siswa MTS Negeri 1 Pontianak tampil sebagai juara 1 Kompetisi Roket
Air Nasional 2018 (KRAN 2018) yang diselenggarakan Pusat Peragaan Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi (PP IPTEK) Kementerian Riset, Teknologi, dan
Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Ajang ini digelar selama dua hari, Sabtu
dan Minggu, 29 – 30 September 2018 di Pusat Peragaan Iptek Taman Mini Indonesia
Indah dan di Lapangan Pusat Teknologi Roket Lembaga Antariksa dan Penerbangan
Nasional (LAPAN) yang berlokasi di Rumpin, Bogor.
TRIBUNNEWS.COM,
JAKARTA - Navida Rahma Ramadhan,
siswa MTS Negeri 1 Pontianak tampil sebagai juara 1 Kompetisi Roket Air Nasional 2018
(KRAN 2018) yang diselenggarakan Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi (PP IPTEK) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi
(Kemenristekdikti).
Ajang ini digelar
selama dua hari, Sabtu dan Minggu, 29 – 30 September 2018 di Pusat Peragaan
Iptek Taman Mini Indonesia Indah dan di Lapangan Pusat Teknologi Roket Lembaga
Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) yang berlokasi di Rumpin, Bogor.
Pada kompetisi hari
kedua yang merupakan kontes peluncuran roket air di Lapangan Pusat
Teknologi Roket LAPAN di Rumpin, Bogor, roket yang diluncurkan Navida merupakan
yang paling presisi.
Saat jatuh, roket
airnya menyentuh titik sasaran yang ditentukan tim juri dengan lontaran sejauh
80 meter dengan skor 0,88. Navida merupakan peserta dengan nomor peluncuran
roket 31.
Tampil sebagai juara
2 adalah Anggi Rama Dani, peserta nomor 12 dari SMPN 37 Bandarlampung dengan
skor 0,98, disusul juara 3 Nauval Muhammad Muzaki, siswa SMPN 1 Magelang dengan
nomor urut 113 dan skor 1,21.
Selain juara 1 sampai
3, kompetisi ini juga menobatkan 3 juara harapan 1 sampai 3, masing-masing
direbut oleh Irsyad Arif Firmansyah dari SMPN 1 Magelang, Irgi Hilman Abdillah
dari MTS Khairul Ummah Jakarta dan Muhammad Razan Raditya dari SMPN 1 Magelang.
Atas kemenangannya
ini, Navida Rahma Ramadhan dan
kelima pemenang lainnya berhak mewakili pelajar Indonesia maju di kontes roket
air tingkat pelajar se-Asia Pasifik di ajang Asia Pacific
Space Agency Forum (APRSAF) yang akan diselenggarakan di
Singapura, 2-4 November 2018.
Navida Rahma Ramadhan, siswa MTS Negeri 1 Pontianak
tampil sebagai juara 1 Kompetisi Roket Air Nasional 2018 (KRAN 2018) yang
diselenggarakan Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP IPTEK)
Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Ajang
ini digelar selama dua hari, Sabtu dan Minggu, 29 – 30 September 2018 di Pusat
Peragaan Iptek Taman Mini Indonesia Indah dan di Lapangan Pusat Teknologi Roket
Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) yang berlokasi di Rumpin,
Bogor.
Keputusan para
pemenang ini mengacu pada keputusan dewan juri yang terdiri dari 3 orang. yakni
DR Mutia Delina MSi, Riki Ramdani Saputra ST dan Ahmad Riyadi ST.
KRAN 2018 terbuka
untuk pelajar dengan usia 12 sampai 16 tahun dengan seluruhnya merupakan
peserta individual.
Hari
pertama, masing-masing peserta merakit roketnya di PP IPTEK Taman Mini Indonesia
Indah, Jakarta.
Kemudian, dilanjutkan dengan hari kedua,
ujicoba terbang dilanjutkan kompetisi meluncurkan roket air di Lapangan
Pusat Teknologi Roket Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) yang
berlokasi di Rumpin, Bogor.
Direktur PP-IPTEK, Mochammad Syachrial
Annas di acara pembukaan KRAN 2018 mengatakan, kompetisi roket air menjadi
ajang adu kreativitas pelajar di bidang teknologi kedirgantaraan dengan
menggunakan roket air sebagai medianya.
Dia menjelaskan, di kompetisi ini, peserta saling adu keterampilan dalam
mendesain dan meluncurkan roket air dengan titik zona sasaran yang sudah
ditentukan sebelumnya, dengan jarak dari titik luncur sejauh 80 meter.
Ketentuan kompetisi ini mengacu pada aturan
yang berlaku pada kompetisi roket air internasional.
Syachrizal Annas mengatakan, melalui
penyelenggaraan kompetisi roket air ini minat dan kreativitas pelajar di bidang
sains bisa ditumbuhkembangkan, sekaligus mendorong merek berinovasi
mengembangkan teknologi kedirgantaraan.
Kepala Pusat Teknologi Roket LAPAN Sutrisno
di tempat sama mengatakan, kegiatan ini sangat positif untuk memancing minat
pelahar pada teknologi keantariksaan, khususnya roket.
"Dunia keantariksaan memberi kontrubusi
sangat penting bagi program pembangunan kita. Semua tidak lepas dari peran
keantariksaan, mulai dari komunikasi, transportasi hingga surveillance. Saat
terjadi bencana, peran satelit (yang diluncurkan ke orbit menggunakan roket)
sangat diperlukan karena jaringan seluler tidak berfungsi," ungkap
Sutrisno.
Sutrisno juga menyebutkan, teknologi roket
saat ini banyak sekali.
"Tapi teknologi ini sangat sensiitf
karena bisa digunakan untuk dual use: sipil dan militer. karena itu roket itu
sifatnya sangat terbatas, mahal dan sulit didapat. Karena karakternya yang
seperti itu, kita mengupayakan kemandirian bangsa dengan membuat litbang roket
sendiri," ungkapnya.
Karena itu, pihaknya menyambut positif
penyelenggaraan Kompetisi Roket Air Nasional 2018.
"Ajang semacam ini membangkitkan minat
generasi muda tentang dunia keantariksaan," beber Sutrisno.



Tidak ada komentar:
Write komentar